topbella

Sabtu, 03 Desember 2011

ANALISIS KONTRASTIF DIATESIS PASIF DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA DALAM RAGAM TULISAN

:)Menurut Fries (1945) materi pengajaran yang paling efisien adalah berdasarkan suatu deskripsi ilmiah dari bahasa yang dipelajari (B2) dibandingkan dengan bahasa Ibu (B1). Selanjutnya, menurut Lado (1957) pembelajar bahasa asing, akan menemui beberapa unsur bahasa yang mudah, bahkan sangat mudah, dan akan menemui juga unsur bahasa yang sukar, bahkan sangat sukar dari bahasa yang dipelajarinya. Akibatnya, mereka cenderung untuk mengalihkan bentuk dan makna B1 ke bentuk dan makna B2 (1957:2). Hal itu dapat berlangsung secara produktif ataupun secara reseptif.
:)Analisis kontrastif adalah metode pembandingan bahasa-bahasa yang akan menjelaskan secara eksplisit perbedaan dan persamaan diantara keduanya. Sementara itu, Fisiak (1981:1), mengemukakan pengertian analisis kontrastif sebagai suatu cabang linguistik yang mengkaji perbandingan dua bahasa untuk menemukan perbedaan dan persamaan diantara keduanya. Ada dua macam analisis kontrastif, yaitu analisis kontrastif teoretis dan analisis kontrastif terapan. Analisis kontrastif teoretis mengkaji secara mendalam perbedaan dan persamaan dua bahasa dengan tujuan untuk mencari kategori tertentu yang ada atau tidak ada dalam kedua bahasa. Sementara itu, analisis kontrastif terapan adalah bagian dari linguistik terapan.
Diatesis
Diatesis umumnya dibahas sebagai kata kerja dalam kategori gramatikal (Muraki 1991:1). Sebagai salah satu kategori gramatikal, diatesis memiliki kekhasan pada morfologi kata kerja itu sendiri serta pada hubungan di dalam struktur sintaktis. Dengan kata lain, diatesis adalah sistem yang saling berhubungan. Chaer (1994:265) menjelaskan pengertian diatesis secara lebih sederhana, sebagai gambaran hubungan antara partisipan dan perbuatan yang dikemukakan dalam kalimat. Perbuatan yang berhubungan dengan partisipan tersebut, Kridalaksana (1993:43), dinyatakan oleh verba dalam kalimat. Lebih lanjut, menurut Muraki (1991:1) verba yang menyatakan hubungan dalam diatesis, secara sintaktis adalah verba yang menduduki fungsi predikat.
Walaupun di dalam bahasa-bahasa pada umumnya bentuk diatesis pasif hanya dapat disusun oleh verba transitif saja, dalam bahasa Jepang diatesis pasif disusun baik oleh verba transitif maupun verba tak transitif. Jenis diatesis berverba tak transitif tersebut dimasukkan ke dalam golongan pasif tak langsung (kansetsu ukemi).
Contoh : 1. Ame ga furimasu.
Hujan (agn) turun (v-intrasitif-aktif)
Hujan turun
2. Watashi wa ame ni furaremashita.
Saya (ekp)hujan (agn) turun (V-intran-pasif)
Saya kehujanan.
             Oleh karena itu, kansetsu ukemi sering dikatakan sebagai struktur yang spesifik bahasa Jepang. Diatesis dianggap merupakan kesemestaan bahasa (language universals). Jadi, terdapat pada bahasa apapun diseluruh dunia, diantaranya adalah bahasa Jepang dan bahasa Indonesia. Diatesis selalu dapat dikenali dengan baik karena selalu ada penandanya. Penanda yang dimaksud dapat bersifat formatif dan tidak formatif. Penanda yang formatif dapat disebut pemarkah (marker), dapat berwujud morfem terikat atau kata, dan pemarkah itu dapat bervalensi dengan kata bendanya. Hal tersebut bergantung pada watak bahasa tertentu. Penanda yang tidak formatif biasanya berupa susunan beruntun atau urutan unsur (Sudaryanto, 1991:6).
Peran Pendamping Pasif
          Banyak sekali Istilah peran yang dipakai oleh para linguis. Kridalaksana menggunakan istilah ekstralingual, sedangkan Sudaryanto menggunakan istilah intralingual. Dalam bahasa Jepang, Muraki menggunakan istilah time, partitive, instrumental dan lain-lain untuk istilah peran (jojutsuso).
Untuk memudahkan langkah analisis pasif kedua bahasa, diperlukan istilah yang seragam, terutama untuk peran yang mendampingi konstituen pusat.
Agentif –Agn, Penanggap – Exp, Instrumental – Ins, Objektif – Obj, Objektif-P – Obj-P
Lokatif –Lok, Temporal –Tem, peran-peran ini adalah istilah yang digunakan dalam penelitian ini.
Diatesis Pasif
Diatesis pasif biasanya dihubungkan dengan diatesis aktif sehingga sering dikatakan bahwa keduanya saling berparafrase. Dapat juga dirumuskan bahwa argumen, yang mengisi fungsi O dalam diatesis aktif, mengisi fungsi S dalam diatesis pasif. Karena bersangkut paut dengan hubungan antara P dan argumen lain dalam struktur sintaktis, diatesis pasif dapat ditentukan dari sudut pola morfemik kata kerja pengisi P sejauh pola morfemik itu berhubungan dengan argumen lain.
Noda (1991:119) Yoshikawa (1989:184), dan Higashinakagawa (1996 :136) mengemukakan bahwa diatesis pasif adalah pasif itu sendiri. Fenomena diatesis, muncul karena ada pertukaran posisi dari konstituen-konstituen pembentuk kalimat. Misalnya :
(1) Sensei ga Asano san o yonda. Asano san ga sensei ni yobareta.
       Agn obj akt obj agn pas
Guru memanggil Asano Asano dipanggil (oleh) guru.
(2) Ayah membeli buku Buku dibeli (oleh) ayah
      Agn akt obj obj pas agn
Kalimat yang ada disebelah kiri adalah aktif atau berdiatesis aktif. Pertukaran posisi antara agens dengan objek pad kalimat (1), (2) tersebut menyebabkan verba berubah, yaitu berkonjugasi dengan sufiks-are(ru)/-rare(ru) (1), dan meN- menjadi di- (2), sehingga terbentuk kalimat seperti yang terlihat pada sisi kanan yang berdiatesis pasif atau aktif.
Diatesis Pasif Bahasa Jepang
          Banyak pakar linguistik Jepang yang berpendapat bahwa diatesis pasif bahasa Jepang ada dua macam (Okutsu dan Tanaka 1989, Muraki 1991, Maynard 1993), yaitu pasif langsung (chokusetsu ukemi) dan pasif tak langsung (kansetsu ukemi). Semua pasif tersebut tidak berbeda tampilannya, yaitu sama-sama ditandai oleh pemarkah –are(ru) dan –rare-(ru). Pada pasif langsung (chokusetsu ukemi) konstituen yang mengisi fungsi objek dalam diatesis aktif, dalam diatesis inimengisi fungsi subjek, misalnya :
Aktif : Sasaki san wa Yamada san o damashita.
Subjek objek K.k akt
Sasaki menipu Yamada.
Pasif : Yamada san wa Sasaki san ni damasareta.
Subjek agn k.k pas
Yamada ditipu Sasaki.
         Pada pasif tak langsung (kansetsu ukemi), konstituen yang menduduki fungsi subjek adalah nomina yang dipengaruhi oleh peristiwa, dan nomina itu tidak termasuk bagian yang berhubungan dengan kalimat aktifnya. Contohnya :
Aktif : Imoto wa okashi o tabeta.
Agn obj akt -lam
Adik memakan kue.
Pasif : watashi wa imoto ni okashi o taberareta.
Exp agn obj pas-lam
Kue saya dimakan oleh adik.
Pemarkahan Diatesis Pasif Bahasa Jepang
Bentuk pasif dalam bahasa Jepang di tandai oleh permarkah –are-(ru) dan – rare(ru) yang menempel pada akar kata verba sebagai sufiks.
Bentuk lebih terperinci tentang verba pasif bahasa Jepang, adalah sebgai berikut :
V 1 omou  omowareru
Yomu  yomareru
Kaku  kakareru
V 2 taberu  taberareru
Miru  mirareru
V 3 Kuru  korareru
Suru  sareru
Selain permarkahan tersebut, suatu verba disebut pasif apabila dapat (atau) didahului oleh nomina (N) + ni/kara (ni dan kara dapat dipakai bila verba menjadikan orang sebagai sasaran atau objek), atau ni yotte. Sebagai contoh:
(3) okusan ni miraretemo ii youna tegami nanka kakanaiwa. (YG,82)
(saya tidak mau menulis surat yang mungkin dibaca juga oleh istrimu.)
(4) Genji monogatari wa Murasaki Shikibu ni yotte kakareta. (ITJL, 124)
(hikayata/cerita Genji ditulis oleh Murasaki Shikibu.)
Pasif Langsung (Chokusetsu Ukemi)
Pasif langsung dalam bahasa Jepang sama dengan bentuk- bentuk pasif beberapa bahasa pada umumnya, seperti bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dibentuk berdasarkan bentuk aktifnya. Verba pengisi fungsi P biasanya adalan verba transitif. Bila kalimat aktif ditransformasikan ke pasif, yang menduduki fungsi subjek pad kalimat aktif bertukar posisi dengan objeknya, sehingga pada kalimat pasif, yang dikenai kegiatan dijadikan subjek dan diletakkan di awal kalimat. Pelaku tidak lagi berfungsi sebagai S kalimat, tetapi pindah posisi dari awal kalimat, bergeser ke tangah dan diberi permarkah baru dengan kata bantu kasus ni. Verba mengalami afiksasi, yaitu akar kata verba diikuti oleh sufiks –rareru. Contoh:
(5) Moto koibito wa Ino Shiori o koroshita.
agn obj akt-lam
Mantan pacar membunuh Ino Shiori.
(6) Ino Shiori ga moto koibito ni korosareta.
Obj/exp agn pas- lam
Ino Shiori dibunuh (oleh) mantan pacarnya.
Kalimat (5) berdasarkan pada verba transitif korosu dimana pelaku, moto koibito (mantan pacar) sebagi S kalimat. Ino Shiori penerima tindakan, menjadi objek langsung dari verba korosu. Menurut Okutsu (1989: 118) verba seperti itu disebut verba berdiatesis aktif. Kalimat (6) menggunakan verba berdiatesis pasif, atau biasa disebut sebagai pasif langsung karena penerima –orang yang terkena tindakan-langsung merasakan tindakan agens verba aktif.
Bagan I
Hubungan bentuk aktif dengan pasif langsung
Aktif
N1 ga N2 o/ni/kara/to V-ru
Pasif langsung
N2 ga N1 ni/kara/de/niyotte V-rare-ru
Pasif Tak Langsung (Kansetsu Ukemi)
Pasif tak langsung sering dikatakan sebagai struktur yang spesifik bahasa Jepang. Alasannya, konstruksi pasif ini dapat dibentuk dari verba taktransitif di samping verba transitif, sedangkan dalam bahasa lain, pada umumnya pasif hanya dibentuk dari verba transitif. (Ishiwata, 1990:61). Contoh :
Subjek pasif taklangsung yang diikuti verba transitif adalah korban perbuatan subjek aktifnya.
(11) Taroo ga giita o hiita.
Agn obj akt-lam
Taro memainkan gitar.
(12) Boku wa Taroo ni giita o hikareta.
Exp agn obj pas-lam
Saya terganggu permainan gitar Taro.
Hubungan (11) dan (12) dapat dijelaskan dengan bagan sebagai berikut.
Bagan II
Hubungan pasif tak langsung dengan kalimat asalnya
Taroo ga giita o hiku
N2 ga N3 o Vtrans
N1 ga N2 ni N3 o Vtrans-pas
Boku ga Taroo ni giita o hikareru
Pasif tak langsung yang dibentuk dari verba transitif, baik korban (exp/S pasif) maupun pelaku (agn/S verba transitif) adalah nomina bernyawa.
Menurut Muraki (1991:182), sebuah struktur disebut pasif taklangsung (kansetsu ukemi) apabila peristiwa yang diungkapkan dalam kalimat asal (kihon bun) aktif, menimpa partisipan lain (yang ditambahkan), diluar struktur kalimat aktif tersebut. Partisipan itu biasanya manusia. Pada contoh-contoh pasif taklangsung terlihat bahwa subjek adalah nomina bernyawa yang berperan sebagai penderita.
(13) Boku wa ame ni furareta.
Exp agn pas-lam
Saya kehujanan.
(14) Watashi wa jiken ni okirareta.
Exp agn pas -lam
Saya terkena kasus.
Diatesis Pasif Bahasa Indonesia
Dalam konteks kalimat, kalimat pasif adalah kalimat yang subjeknya berperan sebagai penderita, sasaran, atau hasil dari perbuatan verba dalam kalimat. Jadi, kaliamt pasif nmengedepankan penderita daripada pelaku. Berdasrkan pernyataan itu, dalam bahasa Indonesia, kalimat pasif dapat dibentuk dari kalimat aktif transitif.
Perubahan aktif ke pasif menurut Moeliono (1997:279) menyangkut beberapa hal, yaitu :
(1) macam verba yang mengisi fungsi P,
(2) subjek dan objek
(3) bentuk verba yang dipakai.
            Pemarkahan Diatesis Pasif Bahasa Indonesia
Diatesis pasif bahasa Indonesia memiliki banyak ragam bentuk. Diatesis pasif atau pasif dapat dibuat dengan berbagai cara, Seperti membuang prefiks me- pada verba sehingga tinggal akar katanya saja; menambahkan prefiks di-; menambahkan sufiks pronominal –ku, kau, -nya; menambahkan prefiks ter- dan menambahkan afiks ke-an pada akar kata.
Dalam penelitian ini konstruksi berdiatesis pasif yang akan dibahas dibedakan dalam beberepa kelompok, yaitu :
(1) pasif –di
(2) pasif nol
(3) pasif imperatif
(4) pasif adversatif
(5)pasif ke-an.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Liescha ceria© DiseƱado por: Compartidisimo